Microsoft Terlibat dalam Pengawasan Massal ICE dan Israel, Pemicu Protes di Markas Besar
REDMOND, Washington – Raksasa teknologi Microsoft kembali menjadi sorotan tajam setelah terungkap keterlibatannya dalam menyediakan infrastruktur teknologi pengawasan yang digunakan oleh badan penegak hukum imigrasi AS, Immigration and Customs Enforcement (ICE), dan militer Israel. Kesamaan teknologi ini memicu gelombang protes dari para pekerja teknologi dan aktivis hak asasi manusia, yang menuntut Microsoft untuk segera menghentikan semua kontrak yang mendukung praktik-praktik yang mereka sebut sebagai pembersihan etnis di Palestina dan kampanye teror di AS.
Dalam kurun waktu hanya enam bulan, ICE diketahui telah melipatgandakan tiga kali lipat jumlah data yang disimpan di platform cloud Azure milik Microsoft. Laporan The Guardian menyebutkan bahwa peningkatan drastis ini terjadi bersamaan dengan “pembengkakan gudang teknologi pengawasannya”. Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan indikasi kuat bahwa kapasitas pengawasan ICE terhadap imigran di Amerika Serikat telah mencapai tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya, dengan dukungan penuh dari teknologi Microsoft.
Pada pekan ini, kampanye No Azure for Apartheid (NOAA) melancarkan aksi protes dan piket informasi di markas besar global Microsoft di Redmond, Washington. Para pekerja teknologi yang tergabung dalam gerakan ini menyuarakan tuntutan tegas agar Microsoft membatalkan semua kontrak yang memberikan dukungan teknologi untuk pembersihan etnis warga Palestina oleh Israel dan kampanye teror yang dilancarkan ICE di AS. Protes ini menyoroti keterikatan moral dan etika yang harus dipikul oleh perusahaan teknologi besar dalam penggunaan produk mereka.
Teknologi Pengawasan ‘Teruji di Medan Perang’ Palestina Diterapkan di AS
Ibtihal, seorang mantan insinyur perangkat lunak di Microsoft dan salah satu penyelenggara kampanye NOAA, menjelaskan koneksi yang mencemaskan antara penggunaan teknologi di dua wilayah konflik tersebut. “Banyak teknologi pengawasan yang datang untuk kita di Amerika Utara dibingkai sebagai ‘teruji di medan perang’ di Palestina,” ujar Ibtihal. Pernyataan ini menggarisbawahi bahwa taktik dan alat pengawasan yang disempurnakan melalui penargetan warga Palestina kini diekspor dan digunakan untuk menekan komunitas lain, termasuk imigran di Amerika Serikat.
Penggunaan frasa “teruji di medan perang” mengisyaratkan adanya proses validasi dan penyempurnaan teknologi melalui praktik-praktik yang sering kali melanggar hak asasi manusia di wilayah Palestina. Sistem pengawasan canggih, pengenalan wajah, dan analisis data, yang dikembangkan dan diuji dalam konteks pendudukan dan konflik, kini disajikan sebagai solusi efektif untuk penegakan hukum di AS. Ini menimbulkan pertanyaan serius tentang etika dan implikasi global dari transfer teknologi semacam itu.
Tuntutan Etika dan Akuntabilitas Perusahaan
Kampanye NOAA tidak hanya menyoroti penggunaan teknologi, tetapi juga mempertanyakan tanggung jawab moral Microsoft sebagai penyedia utama. Para aktivis berpendapat bahwa Microsoft, dengan menyediakan platform Azure, secara langsung memungkinkan pelanggaran hak asasi manusia. Dukungan teknologi ini mencakup penyimpanan data sensitif, analisis prediktif, dan infrastruktur komputasi awan yang krusial untuk operasi pengawasan berskala besar oleh ICE dan militer Israel.
Para pekerja teknologi, termasuk Ibtihal, percaya bahwa perusahaan seperti Microsoft memiliki kekuatan untuk mengubah arah kebijakan yang merusak dan harus menolak kontrak yang berbenturan dengan nilai-nilai kemanusiaan. Mereka menyerukan Microsoft untuk mengambil sikap etis yang kuat, membatalkan kontrak yang ada, dan berkomitmen untuk tidak lagi mendukung entitas yang terlibat dalam praktik-praktik represif.
Keterlibatan Microsoft dengan ICE dan Israel bukan hanya isu teknis, tetapi juga masalah hak asasi manusia global yang kompleks. Protes di Redmond adalah bagian dari gerakan yang lebih luas yang menuntut akuntabilitas korporat dan menantang narasi bahwa teknologi itu netral. Bagi para aktivis NOAA, teknologi yang sama yang mengawasi dan menargetkan warga Palestina juga kini mengintai komunitas imigran di Amerika Serikat, menciptakan lingkaran penindasan yang mendesak untuk diakhiri.
