Kunjungan Bersejarah Modi Pererat Aliansi India-Israel di Tengah Krisis Regional
YERUSALEM – Di tengah pusaran konflik yang terus bergejolak di Jalur Gaza dan masa depan Palestina yang semakin tidak menentu, Perdana Menteri India, Narendra Modi, melakukan kunjungan diplomatik signifikan ke Yerusalem. Kunjungan ini tidak hanya menjadi simbolisasi dukungan, tetapi juga secara nyata memperdalam hubungan antara India dan Israel, sebuah dinamika yang kontras dengan ketegangan hubungan Israel dengan banyak negara di Kawasan Global Selatan.
Momen penting dalam kunjungan tersebut terekam dalam ungkapan penghargaan dari pihak Israel, yang kurang lebih berbunyi, “Anda berdiri bersama Israel” (You stood by Israel). Kalimat ini menggarisbawahi apresiasi Israel terhadap posisi India yang, dalam banyak hal, berbeda dari kecaman luas yang dilontarkan oleh banyak negara berkembang lainnya terhadap tindakan Israel di Gaza. Dukungan diplomatik ini menjadi angin segar bagi Israel di tengah isolasi parsial yang dirasakannya dari sebagian komunitas internasional.
Hubungan antara India dan Israel telah mengalami transformasi drastis dalam beberapa dekade terakhir. Secara historis, India cenderung menahan diri untuk tidak terlalu dekat dengan Israel, terutama karena solidaritasnya dengan perjuangan Palestina dan kebijakan non-blok. Namun, di bawah kepemimpinan Perdana Menteri Modi sejak tahun 2014, hubungan bilateral ini telah berkembang pesat, ditandai dengan peningkatan kerja sama di berbagai sektor. Kunjungan Modi ke Israel pada tahun 2017 bahkan menjadi yang pertama bagi seorang perdana menteri India, menandai era baru dalam diplomasi kedua negara.
Kini, kunjungan Modi ke Yerusalem semakin memperkuat fondasi kerja sama yang telah dibangun. Area kerja sama meliputi sektor pertahanan, intelijen, teknologi tinggi, pertanian, dan manajemen air. India, sebagai salah satu pembeli senjata terbesar di dunia, telah menjadi mitra strategis penting bagi industri pertahanan Israel. Di sisi lain, Israel memberikan akses kepada India terhadap teknologi canggih yang krusial untuk modernisasi sektor industri dan pertaniannya. Volume perdagangan bilateral juga terus menunjukkan peningkatan yang signifikan, melampaui angka miliaran dolar setiap tahun, menandakan interdependensi ekonomi yang kian kuat.
Secara geopolitik, kunjungan ini memiliki makna yang mendalam. Bagi India, ini adalah bagian dari strategi diversifikasi aliansi dan peningkatan pengaruh globalnya. India, sebagai kekuatan ekonomi dan militer yang sedang bangkit, berusaha untuk membangun kemitraan yang kuat dengan negara-negara yang menawarkan keunggulan strategis. Bagi Israel, India adalah mitra yang sangat berharga dari negara non-Barat, memberikan legitimasi dan dukungan diplomatik di panggung global, terutama pada saat negara-negara Barat tradisionalnya mungkin menghadapi tekanan internal untuk mengkritik kebijakan Israel di Timur Tengah.
Situasi di Jalur Gaza dan masa depan Palestina, bagaimanapun, tetap menjadi titik sensitif. Banyak negara di Kawasan Global Selatan, termasuk mayoritas negara anggota Gerakan Non-Blok, secara konsisten menyerukan penghentian kekerasan dan menuntut solusi dua negara, dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kota Palestina. Sikap India, meskipun secara tradisional mendukung solusi dua negara, kini terlihat lebih pragmatis dan strategis dalam menjaga hubungannya dengan Israel, tanpa sepenuhnya mengabaikan isu Palestina.
Konflik di Gaza telah menyebabkan kerusakan parah dan krisis kemanusiaan yang mendalam, memicu gelombang kecaman internasional terhadap Israel. Dalam konteks ini, kunjungan Modi dapat dilihat sebagai upaya Israel untuk menunjukkan bahwa mereka masih memiliki sekutu yang kuat dan berpengaruh di luar blok tradisional Barat. Ini juga memberikan dorongan moral bagi kepemimpinan Israel di tengah tekanan domestik dan internasional yang meningkat.
Dengan demikian, kunjungan Narendra Modi ke Yerusalem bukan sekadar agenda diplomatik biasa. Ini adalah deklarasi yang jelas tentang prioritas strategis India dan Israel, yang bertekad untuk memperdalam aliansi mereka meskipun ada gejolak dan perbedaan pendapat di kawasan. Kemitraan ini diperkirakan akan terus berkembang, membentuk dinamika baru dalam lanskap geopolitik global dan regional yang semakin kompleks.
