Sektor olahraga nasional Indonesia dihadapkan pada sebuah ironi yang menarik perhatian. Kementerian Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) baru-baru ini mengungkapkan bahwa negara ini sempat kehilangan potensi investasi fantastis senilai Rp1.500 triliun. Angka yang sangat besar ini, jika terealisasi, diyakini dapat membawa dampak revolusioner bagi kemajuan olahraga di Tanah Air.
Dampak Hilangnya Potensi Rp1.500 Triliun pada Pembangunan Olahraga Nasional
Jumlah sebesar itu, menurut berbagai analisis, sejatinya dapat menjadi lokomotif utama dalam mendorong akselerasi pembangunan infrastruktur olahraga, pengembangan bibit atlet, hingga kesiapan Indonesia menjadi tuan rumah ajang olahraga internasional berskala raksasa. Para pengamat olahraga dan ekonomi menilai bahwa potensi investasi yang tidak termanfaatkan ini adalah sebuah kerugian ganda, tidak hanya dari segi ekonomi makro, tetapi juga terhadap percepatan prestasi dan citra olahraga Indonesia di kancah global.
Bayangkan jika dana tersebut mampu direalisasikan. Indonesia berpotensi besar membangun puluhan stadion berstandar FIFA atau arena multifungsi kelas dunia, pusat pelatihan atlet modern dengan teknologi terkini di setiap provinsi, atau bahkan mempersiapkan diri secara lebih matang untuk bidding menjadi tuan rumah Olimpiade atau Piala Dunia. Investasi ini juga bisa dialokasikan untuk program pembinaan atlet muda secara terstruktur dari Sabang sampai Merauke, menjamin ketersediaan gizi, fasilitas, dan pelatih berkualitas, yang pada akhirnya akan menghasilkan lebih banyak juara dunia dari berbagai cabang olahraga.
Potensi investasi yang hilang ini disinyalir tidak hanya berdampak pada hilangnya kesempatan ekonomi, namun juga menghambat lompatan kualitatif dalam prestasi olahraga nasional. Fenomena ini menjadi pengingat penting bagi para pemangku kebijakan untuk terus menciptakan iklim investasi yang kondusif, termasuk di sektor olahraga, agar potensi sebesar ini tidak lagi terlewatkan di masa mendatang demi kejayaan Merah Putih di kancah global.
